Krisis Iklim, Bencana Ekologi dan Bagaimana Seharusnya Manusia Bertindak

JAKARTA – Perubahan iklim secara drastis dan tidak menentu dapat menyebabkan masalah lingkungan. Beberapa contoh nyata yang sudah terjadi yaitu fenomena es kutub yang mencair sehingga menyebabkan permukaan air naik dan menyebabkan banjir, curah hujan yang tinggi dan ekstrem serta berpotensi badai hingga cuaca panas yang dapat menyebabkan kemarau berkepanjangan.

Kondisi-kondisi ini dapat disebut sebagai krisis iklim yang sangat berpotensi menimbulkan banyak sekali permasalahan yang berdampak pada kesejahteraan manusia baik dari segi Kesehatan maupun lingkungan itu sendiri.

Krisis iklim juga bukan satu-satunya masalah lingkungan yang dihadapi, selain itu ada ancaman lingkungan lain yang disebut bencana ekologis. Bencana ekologis yaitu peristiwa alam atau bencana yang disebabkan karena keikutsertaan manusia secara sistemik, desktruktif serta massif. Bencana ekologis ini dapat menyebabkan kerusakaan lingkungan seperti kebakaran hutan, banjir, tanah longsor dan kekeringan. Menurut data yang dilansir oleh Badan Nasional Penanggulangan (BNPB), bencana yang terjadi hingga Juni 2022 yaitu banjir sebanyak 747 kali, tanah longsor 373 kali, dan kebakaran hutan serta lahan sebanyak 92 kali. Kondisi tersebut tentu menjadi sebuah catatan penting untuk mempertanyakan tanggung jawab manusia terhadap kesejahteraan ekologisnya.

Bencana yang terjadi dan tercatat layaknya menjadi evaluasi bersama. Pasalnya, Krisis iklim dan bencana ekologis makin diperparah dengan perilaku manusia yang seenaknya terhadap alam terutama dalam menghasilkan limbah dan pengelolaan limbah yang seadanya. Tercatat di Indonesia setiap tahunnya, timbunan sampah mencapai angka 3,5 juta ton/tahun. Sedangkan data penanganan sampah baru mencapai 52% atau hanya sekitar 1.8 juta ton/tahun sampah yang dapat ditangani. Artinya, baru 1.8 juta ton yang dapat dipilah, dikumpulkan hingga melalui proses akhir. Lalu, untuk sampah yang dapat dikurangi sendiri di Indonesia hanya sebanyak 14.5% atau 514 ribu lebih sampah yang dapat dikurangi, dan total sampah yang terkola hanya 66% atau 2 juta ton per tahun yang dapat dikekola. Berarti ada 33.34% atau 1 juta ton/tahun atau lebih yang tidak terkekola.

Gambaran pengelolaan sampah masih jauh dari kata berhasil. Apalagi, data sampah yang di paparkan oleh kementerian LHK adalah data sampah baru per-tahunnya. Maka timbul pertanyaan baru, kemana perginya sampah-sampah yang tidak terkelola setiap tahunnya? Pertanyaan ini sekali lagi hendaknya dapat menjadi refleksi untuk kita semua untuk dapat menahan diri dari merusak lingkungan.

Permasalahan lingkungan mulai dari krisis iklim hingga bencana ekologis salah satunya adalah sampah yang berlebihan, menumpuk serta tidak terkelola dengan baik dan dapat menimbulkan efek yang buruk bagi manusia. Lalu, bagaimana seharusnya manusia menyikapi hal ini?

Adapun hal yang dapat dilakukan dalam merespon masalah lingkungan ini dengan beberapa cara. Pertama, dengan menyadari bahwa tanpa adanya lingkungan yang baik maka tidak akan ada kualitas hidup yang baik pula. Kedua, menghemat penggunaan energi untuk kebutuhan sehari-hari seperti listrik dan gas bumi. Terakhir, adalah secara nyata masyarakat harus mulai beralih menggunakan transportasi umum daripada kendaraan pribadi. Meski demikian, menjadi tugas otoritas pemerintah untuk menyediakan sarana transportasi yang terintegritas, murah dan berkualitas.

Ketiga, hal yang dapat dilakukan selanjutnya adalah mulai menggunakan produk ramah lingkungan. Adapun produk tersebut memiliki karakteristik seperti dapat digunakan Kembali, mudah diperbaiki, dan mudah di daur ulang. Hal ini tentu dilakukan dengan harapan agar menekan pengeluaran sampah-sampah yang sifatnya sekali pakai, sulit didaur ulang dan mudah rusak sehingga dibuang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top