Launching dan Bedah Buku Hasil Penelitian YAICI, PP Aisyiyah & PP Muslimat NU Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis

Jakarta, 25 Februari 2022 – Anak merupakan generasi penerus yang harus kita jaga kesehatannya dan tumbuh kembangnya dengan memberikan asupan yang sesuai dengan usianya. Oleh karena itu penting bagi masyarakat khususnya orang tua untuk mengetahui literasi gizi. Sehingga orang tua tidak salah memberikan asupan makanan yang baik dan salah dalam pola asuh.

 

Terkait dengan itu, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) mengadakan launching dan bedah buku yang berjudul “Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis”.  Hadir dalam acara tersebut antara lain:  Arif Hidayat, S.E., MM, Ketua Harian YAICI, Dr Tria Astika EP, S.K.M., M.K.M peneliti PP Aisyiah, dr. Handrawan Nadesul, dokter sekaligus penyair dan penulis serta Maman Suherman, seorang pegiat literasi sebagai pembicara dalam acara kali ini.

Buku ini dapat membuka wawasan dan pengetahuan kita semua dan menjadi acuan bagi seluruh pihak, pemerintah sebagai pemangku kebijakan, akademisi serta masyarakat dalam melihat persoalan gizi dan kebiasaan konsumsi susu kental manis oleh anak. Dan masyarakat harus menyadari bahwa masa depan anak sebagai generasi penerus bangsa harus sama-sama kita kawal dan jaga dengan meningkatkan pengetahuan orang tua tentang gizi.

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan penulisan buku tersebut berangkat dari hasil penelitian yang dilakukan YAICI bersama para mitra di beberapa daerah di Indonesia. Berdasarkan temuan YAICI di lapangan, Arif mengungkapkan pemahaman masyarakat mengenai gizi di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Hal itu terlihat dari bagaimana persepsi masyarakat mengenai susu kental manis. Dari temuan di 5 Provinsi di Indonesia yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku dan NTT didapati angka yang cukup tinggi yaitu sebanyak 28,96% masyarakat mengatakan bahwa SKM adalah susu pertumbuhan.

 

“Bahkan sebanyak 16,79% ibu memberikan kental manis untuk anak setiap hari. Padahal, fakta menyebutkan SKM tidak lah sama dengan susu dan tidak dpat mendukung tumbuh kembang kesehatan anak. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa kandungan gula SKM sangatlah tinggi yaitu 51% – 56% dengan kandungan lemak SKM berkisar 43% – 48% yang artinya produk SKM ini dapat dikategorikan sebagai bukan susu melainkan pemanis dengan perisa susu,” jelas Arif Hidayat.

 

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Dra Chairunnisa, M.Kes mengatakan, mengapa masyarakat masih mengonsumsi kental manis, karena kental manis cepat mudah terjangkau di dapat di pelosok-pelosok dan murah. “Hal ini ada korelasi dengan penelitian kami.” Salah persepsi SKM dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Dra Chairunnisa, M.Kes saat memberikan sambutan dalam peluncuran dan didkusi buku “Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis,” di Jakarta, Jumat (25/2).

 

 

Dr. Tria Astika EP, S.K.M., M.K.M peneliti dari PP Aisyiah mengatakan “Dampak konsumsi kental manis tidak hanya stunting, anak juga terkena anemia, secara kognitif, Tria berharap dengan terbitnya buku ini, akan memberikan informasi, intervensi yang diberikan ini sudah benar atau belum.” ujar Dr. Tria Astika, EP, S.K.M., M.K.M.

 

Handrawan Nadesul, dokter sekaligus penyair dan penulis mengatakan, “Buku ini merupakan legitimasi betapa masyarakat tidak tahu dan tidak paham tentang gizi. Jadi tidak heran masih banyak anak dan balita mengkonsumsi susu kental manis. Padahal, ini yang mengakibatkan anak tidak cukup gizi, karena proteinnya rendah. Dua tahun pertama adalah usia emas, kecerdasan dan masa depan anak ditentukan oleh dua tahun pertama ini. Karena itu jangan di sia-siakan,”

 

Maman Suherman selaku pegiat literasi mengatakan mengapresiasi kepada YAICI yang telah berjuang. Menurutnya, masalah minat baca di Indonesia bukan hanya tidak suka membaca “Bukan masalah Indonesia yang tidak suka baca. Persoalannya adalah jauhnya akses ke baca. Masyarakat bisa membaca, tapi persoalannya paham nggak denga napa yang  dibaca? Ini yang menjadi persoalan literasi. Sebagai contoh, susu kental manis sudah jelas tertara kandungan gula tinggi dan protein rendah, tapi tetap disebut susu dan diberikan untuk anak. Di supermarket tetap di taruh di rak susu, in ikan menandakan kita tidak paham denga napa yang kita baca,” jelas Maman Suherman.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas