Penelitian YAICI di Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Utara: Salah Persepsi Menghindari Kopi Malah Rutin Mengkonsumsi Kental Manis

Rabu pagi, 2 September 2020 pukul sembilan YAICI bersama tim sudah ada di Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Utara untuk melanjutkan penelitian kesehatan anak yang merupakan salah satu kerjasama yaici dengan majelis kesehatan pp aisyiyah tahun 2020, yang pada tahun ini menyasar 2 provinsi yaitu DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Di DKI Jakarta, Jakarta Timur adalah salah satu lokus penelitian kami untuk meneliti bagaimana dampak dan tingkat kebiasaan masyarakat menggunakan kental manis sebagai minuman susu. Jakarta timur merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak di DKI Jakarta. Berdasarkan data BPS DKI Jakarta tahun 2019 jumlah penduduk jakarta timur adalah sebanyak 3.111.928 jiwa, terbagi menjadi 10 kecamatan, 65 kelurahan, 673 rukun warga, dan 7.513 rukun tetangga. Kota ini memiliki wilayah seluas 188,03 km² dengan kepadatan mencapai 15.384,69 jiwa per km². Sehingga kota ini memiliki tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 2,4% per tahun.

Pulo Gebang adalah kelurahan yang terletak di kecamatan cakung, jakarta timur. Memiliki penduduk sebesar 67.000 jiwa dalam 11.680 kepala keluarga. Terminal Pulo Gebang atau dikenal juga dengan nama Terminal Bus Terpadu Sentra Timur Pulo Gebang adalah salah satu terminal bus tipe A yang terletak di Cakung, Jakarta Timur yang merupakan terminal bus terbesar se-Asia Tenggara. Seluruh bus Antar Kota Antar Provinsi (kecuali tujuan Jawa Barat) diwajibkan masuk ke Terminal Pulo Gebang untuk aktivitas naik dan turun penumpang. Belum lagi tercatat ada 18 apartemen di pulogebang. Sehingga tidak heran Pulo gebang menjadi wilayah yang padat penduduk dan menjadikannya wilayah sentra perekonomian.

Pada kesempatan kali ini yaici ditemani ketua majelis kesehatan PP aisyiyah bu Chairunnisa, kader kesehatan pp aisyiyah wilayah jakarta timur turun kelapangan langsung meninjau RT 12 RW 06 Kelurahan Pulo Gebang, Kecamatan Cakung untuk mengetahui bagaimana pola hidup sehat warga sekitar dan kebiasaan konsumsi kental manis sebagai susu pada balita.

Dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan covid 19, tim yaici dengan pp aisyiyah didampingi bapak RT 12 dan kader posyandu RW 06 sangat memperhatikan penggunaan masker dan tetap menjaga jarak satu sama lain. ada yang memproteksi diri lebih dengan menggunakan pelindung wajah, dan sering mencuci tangan menggunakan hand sanitizer. tak lupa setiap orang saling mengingatkan kepada warga untuk menggunakan masker setiap kegiatan yang dilakukan diluar rumah. ditambah saat turun kelapangan bertepatan dengan sidak masker yang dilakukan seluruh pelayanan kesehatan kepada warga sekitar.

 

Ditemui 2 anak yang mengkonsumsi kental manis (1) umur 4 tahun minum kental manis, (2) Rizki umur 7 tahun. walau bukan 2 balita ini yang menjadi responden kami akan tetapi 2 anak ini adalah kakak dari responden yang kami wawancarai. miris memang, saat kecil tidak diberikan kental manis akan tetapi 2 responden kami yang umurnya masih dibawah 2 tahun ini berpotensi juga akan diberikan kental manis karena faktor ekonomi dan kebiasaan yang sudah dilakukan ibunya memberikan kental manis sebagai susu yang rutin diminum setiap hari.

Menjadi hal menarik saat melakukan penelitian di RT 12 RW 06 Kelurahan Pulo Gebang, Kecamatan Cakung adalah salah persepsi salah satu masyarakat yang mengatakan “lebih memilih menghindari minum kopi dan memilih minum kental manis setiap hari”, ujar pak RT setempat. “ya sehari minimal 1 gelas lah, jadi kalau ditanya nih lagi kumpul-kumpul dengan warga atau sedang pergi ke warteg. yaaa saya mintanya disajikan susu saja (kental manis)”, lanjut pak RT.

Setelah diberikan edukasi oleh bidang advokasi kesehatan yaici, pak RT mengakui memang susah untuk memberhentikan konsumsi kental manis. “kalau sudah tahu begini ya hari ini pere dulu deh minum susunya heheheh”, ucap pak RT sambil tertawa kecil. pengetahuan kandungan gula yang tinggi pada kental manis apabila dikonsumsi sebagai susu di masyarakat ternyata masih minim. terbukti masih banyak dikalangan masyarakat yang sudah menduduki umur 40 tahun ke atas masih tetap mengkonsumsi kental manis sebagai minuman susu, “ya karena dari kecil diberikan dan minumnya susu (kental manis) itu sih”, lanjut pak RT.

Semoga dengan peninjauan turun kelapangan langsung di pulo gebang, cakung untuk keperluan penelitian kesehatan anak terkhusus edukasi peruntukan kental manis yang tepat ini bermanfaat tidak hanya untuk warga pulo gebang cakung dan tim yang bertugas akan tetapi juga berguna untuk pembangunan bangsa terkhusus mencetak generasi emas 2045.

 

Galeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top