Penelitian YAICI di Cileungsi: Ditemukan 3 Anak Balita Dengan Gizi Buruk Konsumsi Kental Manis

Menjadi salah satu wilayah dengan kader yang sigap merupakan salah satu gambaran betapa siap dan semangatnya kader wilayah daerah cileungsi, saat pertama kali YAICI turun kelapangan untuk melakukan penelitian kesehatan anak yang sebelumnya telah dilakukan di Kelurahan Parung Desa Waru Kabupaten Bogor (29/8/2020).

Nurjanah, kader aisyiyah daerah cileungsi sekaligus guru TK Aisyiyah dan ketua koordinator penelitian cileungsi beliau mengakui sangat antusias dan sigap terhadap penelitian yang dilakukan aisyiyah dengan yaici sehingga setelah logistik diterima, beliau langsung meng kerahkan kader dibantu dengan pelayanan kesehatan seperti puskesmas untuk mendapatkan data balita dan kader PKK beserta POKJA. Sehingga setelah melakukan arahan zoom meeting untuk turun kelapangan wilayah cileungsi langsung melakukan penelitian dan selesai dalam waktu 2 hari dengan jumlah responden 24 balita.

Dari 24 responden balita beliau mengakui bahwa hampir semuanya mengetahui bahwa kental manis itu tinggi gulanya. akan tetapi tidak dapat dipungkiri masih saja ditemukan responden yang mengkonsumsi kental manis sebagai susu dengan alasan agar tidak lemas walau tidak digunakan minuman susu sehari hari. “masyarakat sudah mengetahui bahwa kental manis itu bukan susu, tetapi tidak dapat dipungkiri anak-anak memang sudah terlanjur doyan”, lanjut nurjanah.

Cileungsi adalah satu wilayah kecamatan yang berada di kabupaten bogor, provinsi jawa barat. Berbatasan dengan wilayah bekasi dan cibubur, kecamatan Cileungsi adalah salah satu kawasan industri di kawasan jabodetabek. Desa Cileungsi ini terdiri dari 6 dusun, 21 RW dan 65 RT sehingga hampir memiliki lebih 23.810 warga.

Menjadi salah satu sampel locus penelitian kami, Desa Cileungsi adalah salah satu wilayah yang tumbuh, dengan banyak perumahan, ada perumahan karyawan pabrik, ada perumahan campuran dan perumahan khusus untuk militer. Karena banyaknya kawasan industri yang dibangun di wilayah ini, berkembang pula banyak rumah sewa yang diselenggarakan sendiri oleh penduduk setempat, sehingga tidak heran banyak sekali kontrakan dan pendatang yang terus berganti dari kontrakan yang satu dengan yang lain dengan mayoritas masyarakat bermata pencaharian sebagai pedagang (wiraswasta) dan buruh.

Menurut data yang didapat dari kader aisyiyah yang bersumber dari puskesmas di desa cileungsi jumlah angka stunting menginjak  200 anak (paling rendah dari kecamatan-kecamatan lain yang masuk ke dalam locus penelitian di kabupaten bogor) dengan jumlah posyandu 86.

 

Tetapi yang menjadi hal menarik dalam kegiatan kali ini dengan turun kelapangan langsung melakukan penelitian mengenai kesehatan anak terkhusus dampak kebiasaan mengkonsumsi kental manis sebagai susu ini di desa cileungsi adalah pelayan kesehatan sendiri, baik itu kader posyandu, kader aisyiyah yang belum paham betul bahwa kental manis itu bukan susu bahkan menjadi korban memberikan kental manis sebagai susu kepada anaknya.

Sedikit cerita terkait pengalamannya sendiri mengenai kental manis. “anak saya sendiri pernah menjadi korbannya”, cerita Nurjanah, kader aisyiyah daerah cileungsi sekaligus guru TK Aisyiyah dan ketua koordinator penelitian kecamatan cileungsi.

 

“Saat umur 1 tahun setelah lepas ASI anak saya tidak mau dan suka dengan susu merek apapun. Ternyata oleh yang si momong saat anak saya berumur 1 tahun 6 bulan diberikan kental manis sebagai susu yang mengakibatkan ketagihan hingga anak saya berumur 2 tahun 6 bulan”, ucap Nurjanah. Secara fisik tumbuh kembang anak memang terhambat terlihat dari postur badan yang kecil tidak sesuai dengan teman sebayanya. Begitu pun juga dengan gigi anak yang keropos. Selain itu berat badannya yang kecil tidak sesuai dengan berat anak pada umurnya. “Padahal 2 anak saya yang lain biasanya gede-gede, eh ini anak saya yang terakhir kok kecil banget”, heran nurjanah saat menceritakan kisah pengalamannya sendiri mengenai kental manis, ia baru menyadari gigi anaknya yang keropos ternyata disebabkan kandungan gula dalam kental manis yang sangat tinggi.  “tuh kan ini mah gara-gara uwa (sebutan beliau kepada pengasuh anaknya) karena kasih kental manis”, lanjut nurjanah.

 

Dalam pengakuannya ia baru menstop pengkonsumsian kental manis kepada anaknya di 6 bulan terakhir belakangan ini. Sehingga saat ada penelitian mengenai dampak kebiasaan konsumsi kental manis yang dilakukan aisyiyah dengan yaici beliau sendiri lah yang menjadi korbannya.

Beda halnya dengan Mugiyanti koordinator posyandu dan Kader Penyuluh Masyarakat atau KPM menerangkan bahwa sudah pernah dilakukan penyuluhan dari kader gizi mengenai kental manis yang peruntukannya bukan untuk susu. akan tetapi banyak masyarakat yang menyikapinya dengan, “kalau tidak diberi susu kental manis, diberikan apalagi jika sudah berhenti diberikan ASI nya?”. Dengan begitu tetap saja masyarakat menyikapinya susu kental manis itu adalah susu yang sangat membantu anaknya tumbuh kembang. Sebagai kader penyuluhan tentunya megiyanti melakukan penyuluhan agar masyarakat berhenti menggunakan kental manis sebagai susu dan stop pemberian kepada anak. 

 

Secara pribadi Megiyanti mengaku tidak mengetahui  betul dan paham sepenuhnya apakah susu kental manis itu bukan susu apakah itu hanya gula karena beliau tidak menyukai dan mengkonsumsi susu dalam bentuk apapun. akan tetapi beliau mengakui bahwa, “karena labelnya masih tertulis susu beliau mengilhami bahwa kental manis itu yaa masih tetap susu”.

 

Saat meninjau langsung kelapangan walau saat di wawancara langsung dengan tim YAICI responden sudah mengetahui betul bahwa kental manis bukan susu akan tetapi faktanya masih saja responden memberikan kental manis sebagai minuman susu.

Nayla 1 tahun 4 bulan (anak ketiga), anak kedua 3 tahun, anak pertama 6,5 tahun rutin mengkonsumsi kental manis setiap hari 2 gelas. Dalam pengakuan sang ibu. saat anak kedua berumur 1,5 tahun setelah selepas ASI langsung diberikan kental manis, karena kejadiannya saat itu nayla lahir sehingga fokus ASI fokus diberikan ke Nayla. 

Dalam penjelasan anak pertama, ia mengkonsumsi kental manis sehari dua kali menggunakan gelas begitupun juga adiknya, “kalau aku suka yang putih, kalau dia (sambil menunjuk adiknya) suka yang coklat”

 

Dalam pengakuan ibu tiga anak tersebut 1 kaleng susu tidak habis dalam waktu 1 bulan karena pengkonsumsiannya tidak rutin, “nggak setiap hari kok, kalau mau saja. kalau kakaknya lagi minum terus minta ya baru dikasih. awalnya pun kakak pertamanya minum saat berumur 4 tahun tapi karena adiknya (anak kedua) melihat kakaknya minum yaa jadi mau deh sekarang malah ketagihan”. jelas ibu 3 anak

Lain halnya dengan Arfa yang tahun ini ingin menginjak umur 2 tahun, ibunya seorang ibu rumah tangga dan ayahnya bekerja sebagai tugas kebersihan di pasar cileungsi. Saat ditemui ayah dari 3 anak ini sedang asik main gundu di depan rumahnya. Ibu Arfa dengan memiliki 3 anak di umurnya yang sudah 27 tahun sudah melek betul pengetahuan peruntukan kental manis dan ia tidak pernah memberikan Rafa kental manis sebagai minuman susu, 

“ya karena sudah tahu kental manis bukan susu”, jelasnya. Ya walau diakuinya tubuh dan berat Arfa di umurnya yang ingin menginjak 2 tahun ini dengan berat badan 8,5 kg tidak sesuai dengan teman teman sebayanya sehingga dalam pencatatan buku KMS nya kader posyandu memasukkan Arfa masuk ke dalam garis merah. 

 

Dalam pengakuannya pun untuk kedua kakak Arfa pernah sesekali meminum kental manis sebagai susu, “tapi jarang sih, biasanya susu kotak (UHT) sehingga sekarang pun saya tidak memiliki kental manis dirumah. pun ada pas lagi bulan puasa aja kalau lagi buat bikin pisang bakar”. lanjut ibu 3 anak tersebut.

Lanjut ke responden ke tiga, saat ditemui anak dan ibu sedang tidur siang. Dalam pengakuannya ibu dari 2 anak ini sejak lahir ASI tidak dapat diberikan karena ASI tidak bisa keluar sehingga 2 anak dari ibu ini berikan susu formula pun dalam pengakuannya beliau tidak pernah mengenalkan kental manis kepada 2 anaknya karena takut tidak sesuai dengan umur anaknya sehingga menimbulkan efek samping kepada anaknya. sekarang anak keduanya menginjak 1 tahun 10 bulan dengan berat 9,5 kg dan kakak pertamanya menginjak 9 tahun dan sekarang sedang duduk di bangku 3 Sekolah Dasar. 

Lucunya saat anak pertama ditanya suka minum susu apa, anak menjawab kental manis yang putih, “sehari 2 gelas”, jawab anak malu-malu saat ditanya sehari minum berapa kali. dari wawancara ini di dapat ibu tidak jujur dalam memberikan informasi, pun menutupi kebohongannya dengan mencubit anak pertamanya saat menjawab minum susu kental manis yang putih sehari dua gelas.

Suci Rohayati, Kepala Usaha Tata Usaha Puskesmas Cileungsi mengungkapkan dan menyadari bahwa pada awalnya susu kental manis itu adalah susu. Akan tetapi karena keterbukaan informasi, masyarakat sebagian besar sekarang sudah tahu kalau kental manis itu bukan susu. Ia menyadari bahwa hal ini akan sedikit sulit karena belum sepenuhnya masyarakat menyadari dan membiasakan untuk menjadikan kental manis bukan susu

 

Beliau berharap agar penggunaan kental manis yang dijadikan sebagai susu terus berkurang. Dalam pengakuan beliau mengatakan bahwa, “pastinya seluruh masyarakat pernah mengkonsumsi kental manis sebagai susu”. sehingga secara pribadi pun beliau mengakui pernah mengkonsumsi kental manis sebagai susu.

 

Dapat disimpulkan dari turun lapangan YAICI meninjau langsung dan ikut turun melakukan wawancara penelitian, masih banyak warga cileungsi yang memberikan skm pada anaknya, sehingga sosialisasi tentang peruntukan dan bahaya skm sangat penting

Di akhir sesi wawancara YAICI memberikan materi edukasi dengan harapan dapat digunakan sebagai sarana dalam penyampaian informasi mengenai stunting terkhusus mengenai kental manis bukan susu.

 

Galery

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top