Webinar PP Aisyiyah – YAICI: Mewaspadai Prevalensi Stunting Kembali Naik Akibat Pandemi

Jakarta, 22 Juni 2020 – Akhir pandemi Covid 19 masih belum dapat dipastikan. Namun yang sudah mulai terlihat adalah jumlah orang miskin di Indonesia bertambah, daya beli masyarakat rendah. Sebagian masyarakat lebih memilih ‘makan asal kenyang’ dibanding pertimbangan kebutuhan nustrisi. Di sisi lain, pemerintah malah berencana melakukan pemangkasan dana penanganan stunting yang berdampak terhadap program-progam penanganan stunting. Langkah ini dinilai menjadi awal gagalnya target pemerintah menurunkan angka stunting hingga 14%.
Melihat trend prevalensi stunting di Indonesia, beberapa daerah tampak berhasil menurunkan prevalensi stunting. Namun, hal sebaliknya terjadi pada Sumatera Selatan. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Selatan, penderita stunting bertambah dalam 2 tahun terakhir. Pada 2016, Sumatera Selatan pernah menjadi propinsi dengan angka stunting terendah yaitu 19,2%. Namun saat ini angka stunting berkisar 31,7 persen pada anak usia bayi lima tahun (Balita) melebih rata-rata nasional. Sedangkan anak bayi dua tahun (Baduta) sedikit di bawah rata-rata nasional sekitar, 29,8 persen.


Gubernur Sumatera Selatan Herman Daru, melalui Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Dra. Lesty Nurainy. Apt.,M.Kes mengakui masih tingginya gizi buruk di wilayahnya disebabkan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gizi.
“Kita sudah sepakat untuk bersama lintas sektor menurunkan stunting dimana edukasi dan sosialisasi meningkatkan pengetahuan orang tua menjadi penting. Sebab, masih banyak ibu-ibu yang keliru memberikan susu kental manis untuk anak-anak yang dianggap sebagai susu. Persoalan kental manis ini perlu dijelaskan agar pertumbuhan anak-anak tidak terganggu karena salah pengertian. Karena itu, harapannya Aisyiyah sebagai organisasi yang dekat dengan masyarakat dapat berperan besar dalam mensosialisasikan peraturan yang dikeluarkan BPOM mengenai penggunaan kental manis,” papar Dra. Lesty Nurany, dalam sesi webinar bersama PP Aisyiyah dan YAICI pada 22 Juni 2020.
Selain mewaspadai meningkatnya angka anak dengan gizi buruk, pentingnya pemahaman masyarakat tentang gizi anak juga berkaitan dengan imunitas tubuh anak. Sebagaimana diketahui, imunitas anak menjadi perhatian utama dimasa pandemic seperti saat ini. Terlebih, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menyatakan bahwa anak-anak juga berresiko tertular Covid 19. Bahkan, hingga saat ini sudah lebih dari 584 anak positif Covid 15, 14 diantaranya meninggal duni.
Karena itu, pemilihan makanan untuk anak menjadi penting diperhatikan mengingat zat-zat makanan yang masuk ke tubuh anak yang akan menentukan kekebalan anak terhadap virus dan patogen dari luar. Kesalahan asupan makanan dan minuman untuk anak beresiko anak mudah terserang penyakit karena menurunnya kekebalan dan untuk jangka panjang menyebabkan masalah gizi, yang berakibat mudahnya timbul penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas hingga menurunkan kualitas anak dimasa mendatang.
Sayangnya, hal ini masih belum menjadi perhatian orang tua. Masih banyak diantara orang tua yang hanya berpatokan pada rumus nasi dengan lauk pauk dan anak menjadi kenyang. Selain itu pengaruh beragam iklan makanan dan minuman instan yang overclaim, menjanjikan kepraktisan dalam penyajian, ekonomis tanpa menjelaskan apa saja zat-zat yang terkandung di dalamnya. Akibatnya, anak terbiasa mengkonsumsi makanan dan minuman rendah gizi namun tinggi gula garam lemak. Salah satu produk seperti Susu kental manis/ kental manis yang seharusnya hanya digunakan sebagai topping makanan, masih ditemukan dikonsumsi oleh anak dan diasumsikan sebagai susu.
Dra. Chairunissa M.Kes, KetuaMajelis Kesehatan PP Aisyiyah dalam kesempatan itu juga memaparkan hasil penelitian dan survey mengenai kental manis yang dilaksanakan PP Aisyiyan bersama YAICI. Disampaikan Chairunnisa, terlihat bahwa masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa kental manis adalah susu yang dapat dikonsumsi anak. Faktor pemicunya adalah iklan produk kental manis yang bertahun-tahun menampilkan image kental manis adalah susu untuk anak dan keluarga.
“Sebanyak 37 responden beranggapan kental manis adalah susu, dengan kata lain 1 dari 3 ibu di provinsi tersebut percaya kental manis adalah minuman yang menyehatkan anak,” jelas Chairunnisa. Selain penelitian yang dilakukan di 3 provinsi yaitu Aceh, Kalimantan Utara dan Sulawesi utara tersebut, PP Aisyiyah juga melaksanakan survey penempatan produk kental manis di Jabodetabek.
“Dari obeservasi 161 minimarket di Jabodetabek, sebanyak 62,7% peletakan kental manis tidak tepat karena ditempatkan bersamaan dengan susu untuk bayi, dewasa, susu UHT dan susu cair lainnya,” jelas Chairunnisa.

 

Galeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top